Tuesday, 14th June '2030
"Apa? Bunga keabadian?" tanya Vera. "Memang tadi malam kau tak melihat isyarat merah!?" tanyaku balik. Vera menggeleng, aku merengut kesal, lalu aku memanggil sapu terbangku, Chester, kemudian menyuruhnya menceritakan apa yang terjadi. "Aha? Ho? Ohem? Ha!! Aku mengerti! Suara ledakan, dan percikan api? Ya, kemarin ayahku yang bekerja di departemen keamanan memang pulang larut malam, tapi aku tak tahu kenapa, mungkin karena
bunga itu, ya!! Aku tahu, sekarang! Terima kasih Chester, Terima kasih.. Floe.. Ehehe.." jelas Vera. Aku mengangguk, setelah ini aku harus kembali ke kelas, karena waktu istirahat sudah usai! Di dalam kelas, tak banyak anak yang membicarakan isyarat merah itu, mungkin karena tak ada yang mau bangun jam 1 malam! Oh, iya.. tahu mengapa suara ledakan dan percikan api disebut isyarat merah? Karena api yang sudah memercik ke langit menunjukkan kondisinya sudah parah sekali, ada juga isyarat kuning dan hijau, keduanya mempunyai suara ledakan dan percikan api, namun, suara dan level percikan api-nya berbeda.
Kriiiiing!
Bel makan siang berbunyi, aku dan Vera mengambil makan siang masing-masing,dan mengambil sapu terbang, karena kami malas jika makan di bawah,--di taman-- ribut! Dan pasti tidak kebagian tempat. "Hei, Floe! Disini saja! Anginnya lumayan!" seru Vera. "Baiklah, tunggu, aku mau menyesuaikan Chester dulu!" jawabku. Sapu terbang bisa disesuaikan, mau berdiri, atau tiduran, biasanya kalau tiduran, kita bisa duduk dan berdiri diatasnya tanpa jatuh, karena sapu terbang-lah yang menyesuaikan keseimbangannya! Setelah makan siang, ada pelajaran Herbologi, temanya tentang bunga! Kebetulan sekali!
"Duduk anak-anak!" perintah guru. "Baik, bu!" jawab kami. Guru pun mulai menerangkan tentang macam-macam bunga sihir, ada bunga kematian, bunga obat, bunga yang membuat kita bernapas di air jika kita makan, bunga terbang, bunga bulu, dan, bunga keabadian! Saat bunga keabadian dijelaskan, aku baru tahu jika seseorang mencabut bunga itu, ia akan mati dengan mengenaskan, tapi jika seseorang hanya menjilat bunga itu karena kelaparan, maka orang itu akan abadi selamanya. "Tapi kenapa isyarat merah disebarkan hanya karena bunga itu, bu?" tanyaku. Guru itu terbelalak, sepertinya ia kaget. "Karena bunga itu bisa membawa marabahaya, nak! Bunga itu tersebar dalam satu kebun pohon kehidupan! Jika empat orang saja mencabut empat bunga, maka dunia ini akan diserang oleh sihir gelap! Itu pernah terjadi satu abad yang lalu! Berhati-hatilah, bunga itu bisa menarik siapapun untuk mencabutnya!" jawab guru itu.
Kriiiing!
Bel pulang berbunyi, entah kenapa aku tak langsung terbang saja dengan sapuku, tapi aku tertarik untuk berjalan kaki saja hari ini. Di telingaku masih terngiang-ngiang nasihat guru Herbologi yang tadi. Di rumah nanti, aku mau bertanya pada ayah dan ibu saja! Tik! Tiba-tiba mataku menangkap sepucuk bunga yang sangat indah! Kelopaknya berwarna merah muda dan putih, dan tangkainya tegak! Oh, indahnya! Aku jadi ingin memetiknya! Tanganku terjulur untuk mengambil bunga itu. Tetapi... "JANGAN!!!"
To be continued..